Surat Untuk Ibu

Lebaran kali ini benar-benar berbeda, sangat berbeda.
Jauh dari orang tua, jauh dari adik-adik tersayang, dan teman-teman 
Catalyst tercinta.
Bu, harusnya sekarang aku sedang membantu ibu membuat kue lebaran. Harusnya sekarang aku sedang membersihkan rumah agar terlihat nyaman saat tamu-tamu berkunjung.
Bu, aku rindu suara adzan di kota kelahiranku.
Aku rindu gema takbir di surau depan rumah.

Bu, satu hari lagi lebaran Idul Adha.
Aku sangat iri dengan teman-teman yang dapat merayakan hari raya bersama keluarga dan teman-teman mereka.
Entah dengan siapa aku melaksanakan shalat Ied nanti.
Biasanya saat aku menoleh ke samping, selalu ada ibu dan Ais yang duduk di sebelah kananku.
Dan saat aku menoleh ke kiri, ada Us dan Mila.
Aku rindu saat jalan ber-enam menuju Lapangan Merdeka untuk melaksanakan shalat ied.
Aku rindu saat ayah menunggu di ujung lapangan dengan baju koko putih dan peci di kepalanya.
Ayah terlihat sangat gagah.
Bu, rasanya aku ingin pulang !

Bu, ini foto-foto saat lebaran Idul Adha tahun lalu. Semoga tahun depan kita bisa berkumpul lagi seperti ini. Aku selalu berdo’a agar ayah dan ibu selalu sehat dan senantiasa diberi umur panjang.






Ohya Bu, beberapa hari lagi ibu berulang tahun.
Maaf karena aku tidak bisa berada di samping ibu saat hari pergantian umur mu, Bu.
Maaf karena tidak bisa memberi ibu kejutan seperti di tahun-tahun sebelumnya.
Aku harap, ibu selalu terlihat muda di umur ke- 44 tahun ini.
Kelak, aku ingin menjadi seperti ibu.
Menjadi wanita yang  kuat dan selalu sabar, jago masak, dan menjadi sosok ibu yang hebat untuk anak-anaknya.
Bu, salam sujudku untuk ayah. Tolong sampaikan padanya, terimakasih telah menjadi sosok inspirasi bagi ku.


3 Tahun Bersama Mereka

Tiga tahun yang lalu saya mendaftar sebagai  seorang pelajar di sekolah ini. SMA Negeri 1 Kota Bima, itulah nama tempat saya menimba ilmu selama 3 tahun.

Di kelas ini saya mengikuti tes masuk SMA, dan dikelas ini pula saya menghabiskan waktu untuk belajar bersama teman-teman ajaib dan guru-guruku.


Kelas kami berada dibangunan bertingkat dua. Kelas ini kami beri nama “The Catalyst” (the class of truly amazing & luxury students)


Nah, begini nih suasana di depan kelas XII IPA 7. Di tempat ini biasanya yang cewek-cewek duduk berjejer dan bergerombol untuk makan bekal yang dibawa masing-masing




Di kelas ini kami belajar banyak hal. Mulai dari belajar menghitung huruf huruf menjadi angka seperti pelajaran logaritma, hingga belajar bagaimana untuk sembuh dari masa-masa labil.




Merubah yang baby face menjadi wajah brutal penuh dosa



Anak-anak di kelas ini paling brutal kalo masalah foto dan makan-makan.
Kalo liat makanan, hukum rimba berlaku.




Kalo ada kamera, pasti brutal gini



Di kelas ini paling banyak memproduksi anak PAUD.Kenapa dibilang anak PAUD ? soalnya hampIr setengah dari cewek-cewek di kelas ini memiliki postur tubuh dibawah rata-rata.


Walaupun begitu, wajah-wajah cewek-cewek di kelas ini cantik-cantik



Anak-anak cowoknya juga cakep-cakep dan jantan semua



Di kelas XII IPA 7 ada geng yang beranggotakan : Lita, Devi, Ana, Nadya dan Runi. Mereka bersahabat sejak SMP. Kalo ke kantin mereka selalu pergi bersama.


Di kelas ini ada aba cool dan aba reman. Cowok ini selalu bergaya cool kapanpun dan dimanapun walaupun ada kebakaran. Sedangkan  cewek ini selalu bertingkah laku seperti preman.


Dua orang ini paling fenomenal di kelas. Sejak kelas X sampai kelas XI selalu saja berantem. Tapi dikelas XII…


Berawal dari pertemuan yang tidak diduga sebelumnya, saling mengejek, mengejek, dan mengejek. Sampai pada suatu saat terasa suatu getaran yang tanpa disadari, ternyata getaran itu adalah getaran cinta


Di kelas ini ada juga yang cinlok.

1. Akbar dan Nadya


2. Ratu dan Juhdin


3. *nama disensor



Ini adalah foto adegan so sweet teman-teman di kelas *adegan ini hanya fiktif belaka






Melihat kemesraan mereka, teman-teman lain yang jomblo merasa galau di kelas. Bahkan setiap malam mereka menangis dipojok kamar



Adakalanya kita stress belajar


Tetapi kami harus terus berjuang, untuk mencapai sebuah impian !


Terimakasih kepada mami HJ. Nuraini, S.Pd yang telah menjadi wali kelas kami saat kami duduk di bangku kelas X.



Terimakasih juga kepada papi Drs. Anwar, M.Pd yang telah meluangkan waktunya untuk menjadi wali kelas kami saat kami kelas XI


Yang terakhir, terimakasih untuk ayah Drs. Sanusi yang telah menemani kami melewati suka dan duka di kelas XII. Terimakasih karena membantu kami menyelesaikan segala kesalahan pada raport kami. Terimakasih banyak pak guru.Terimakasih telah menjadi wali kelas terakhir bagi kami.


Di kelas ini kami mengenal arti dari sebuah KEBERSAMAAN.



Catalyst moment

*Penampilan senibudaya



*Tidak ada lagi hari dimana kita menjadi petugas upacara


*Kapan lagi kita rayakan hari guru seperti ini ?


*Apakah suatu saat nanti kita bisa ngumpul lagi kayak gini ?



Thanks for this moment my catalyst. I'm gonna miss you guys !





Kami memang nakal, kami memang brutal, tapi kami terlahir untuk jadi PEMENANG !