Kau tau apa yang membuat rintik hujan terasa syahdu? Sebab diantaranya terselip pesan-pesan rindu.
Saat pertama kali mataku menangkap keindahanmu, aku terus dilanda kecemasan tak berkesudahan.
Aku takut kau hilang.
Meskipun berusaha aku tahan, hati dan pikiranku tetap bersikukuh padamu yang semakin jauh.
Jika saja aku tahu, tumbuhnya rasa hanya membuat rasa sesak di dada, aku lebih memilih tidak pernah merasa sama sekali.
Aku sadar, menjadikanmu poros bahagiaku adalah kesalahan. Tak seharusnya aku porak-poranda karena perasaan.
Maka izinkan aku melepas apa yang seharusnya aku lepaskan. Biarlah ia tetap dinamakan cinta dalam diam, biarlah ia menjadi cinta yang tak merusak keimanan.
Sampai pada waktunya nanti.
Dari seseorang yang tak pernah mampu memangkas rindu dengan utuh.
Akan ada masa dimana kamu akan menertawakan derita, kesedihan, benci, amarah, dan dendam dimasa lalu pada sesuatu dan seseorang. Akan ada masa dimana kamu tidak percaya bahwa rupanya kamu bisa melakukan apa yang kamu lakukan sekarang. Meraih apa yang tidak pernah kamu harapkan atau bayangkan. Mencoba hal dan bertemu dengan orang baru yang dulu kamu takutkan. Akan ada masa dimana kamu mulai membangun lagi mimpi-mimpi lama bahkan membuat yang baru yang jauh lebih besar dan tinggi. Tapi untuk sekarang menangislah Berdukalah Marahlah Hancurlah Salahkan kekasihmu atau mantan kekasihmu Salahkan gebetan barunya atau pacar barunya Salahkan pekerjaanmu Salahkan orangtua mu Salahkan teman-temanmu Salahkan harapan-harapan kosong yang dijual dalam bentuk buku, film, televisi, dan internet Salahkan lingkunganmu, negaramu, bahkan presidenmu. Salahkan agamamu bahkan Tuhanmu. Salahkan dirimu sendiri Salahkan semuanya, sampai tidak ada yang bisa disalahkan Salahkan semuanya Sampai kamu sadar bahwa kamu tidak punya kendali terhadap apapun selain dirimu sendiri
Angin kembali merayuku untuk bersajak. Memaksa sosokmu menjadi pelakon utama, dan menjadikan kisah ini sebagai alurnya.
Saat panggilan-Nya berkumandang Aku dan kamu bergegas menuju-Nya Tetesan wudhu menjadi saksi bagaimana kau menjagaku Dirimu, melindungiku dari pandangan seseorang yang tak seharusnya
Bahkan kau pun tak sudi untuk menatap
Karena aku belum menjadi hak mu
Dari saff belakang ku pandangi sosokmu
Dengan gagah berdiri diantara barisan itu
Kamu, sedang bermunajat kepada Tuhanmu Aku mengagumimu Bersamamu habiskan malam Mengarungi samudera Semilir angin dan gemuruh ombak menjadi saksi kita bersua Guyonan polosmu membuat jiwa ini tergelitik Ombak dan angin malam menjadi saksi pengakuanmu Dirimu rindu akan kenangan masa lalu Kenangan dari semilir angin Tanjung Benoa Membawa ingatan tentang dia Dia yang menjadi cinta pertamamu Dia, sosok dewasa yang kau butuhkan Tempat kau bermanja ria
Tetapi sosok itu pudar raganya
Yang tersisa hanya alur kenangan
Yang kau anggap indah dan sulit untuk terganti
Aku dan kamu kembali mengitari perahu
Mengiring tuk bersandar di dermaga itu
Aku dan kamu tiba dipenghujung Kelap-kelip lampu kota dari kejauhan Sinar rembulan, sepoi angin Kau dan aku bersama Aku ingin selalu terjaga Diantara hijaunya ruang Namun raga ini mulai terlelap
Tidak apa jika kamu tidak mampu jujur & tidak ingin menceritakan tentang kekuranganmu pada orang lain. Tetapi jangan mengarang cerita lain agar terlihat hebat untuk menarik perhatian mereka (sywl, 2016)
Quotes di atas tercipta dari renungan sesaat dari kasus berikut :
Ada cowok deketin cewek dan berniat ingin menjalin hubungan serius sama cewek itu. Nah untuk menarik perhatian si cewek ini dia ceritakan semua kelebihannya, tentang keluarganya dll. Tapi satu hal yang dia karang, cowok ini pengangguran & berbohong kepada si cewek. Ia mengatakan kalau dia sekarang kuliah di universitas A misalnya. Padahal dia tidak kuliah. Tetapi si cewek tersebut percaya. Dan pada suatu hari, si cowok diterima bekerja di perusahaan A. Setelah itu baru si cowok jujur kepada si cewek tentang dirinya yang dahulu membohonginya.
Akhirnya aku memutuskan untuk berkonsultasi tentang kasus di atas kepada seorang teman yang kebetulan seorang mahasiswa psikologi.
"Cowok yg seperti itu kenapa ya jika dilihat dari sudut pandang psikologi manusia?"
Teman tersebut pun menjawab "Dia tidak percaya diri, karna mungkin dia seperti itu karena melihat dari sisi status sosial perempuannya.
Dia tidak ingin wanita tersebut kecewa dan dia membuktikan dengan berusaha untuk bekerja agar keduanya setara status sosialnya."
Pertanyaan selanjutnya "Apakah orang seperti itu cenderung akan selalu berbohong untuk menutupi kekurangannya kepada orang lain juga? Misal kepada teman/saudaranya?"
"Bisa, karena indikasi awalnya dia begitu "Jawab kawan tersebut.
Dan sedikit nasehat tambahan darinya "tetapi segala hal yg didasari kebohongan belum tentu selalu buruk"
Sejenak aku berpikir, asik ya jadi mahasiswa psikolog. Bisa menganalisa kepribadian seseorang, tentu saja berdasarkan riset & aplikasi di masyarakat.
2 tahun lalu, saat teman2 bertanya kelak aku ingin melanjutkan study di jurusan apa, dengan bangga aku katakan "aku ingin menjadi seorang psikolog"
Rasa tertarik itu masih tertanam hingga sekarang. Dan aku pun melanjutkan diskusi ringan dengan seorang teman tadi.
Aku bertanya tentang buku pegangan wajib seorang mahasiswa psikolog, dia pun menjawab "kami tidak memiliki buku pegangan wajib. Semua harus di luar kepala"
Ada rasa kagum terhadap teman tersebut. Dan kembali aku lontarkan pertanyaan "lalu untuk bisa menganalisa kepribadian seseorang bagaimana caranya ? Apakah dgn banyak mempelajari lewat buku atau langsung ke masyarakat?"
Inilah jawaban yang ku dapat..
Seperti ada yang rancu ketika mendengar penuturan tersebut, dan aku semakin tertarik dengan kode etika seorang psikolog.
Tak puas dengan jawaban teman tadi, aku beralih ke dua teman lainnya. Pertanyaan awal aku mulai tentang kode etik seorang psikolog. Dan keduanya pun menjawab dengan hal yang sama.
Jadi, pelajaran apa yang dapat kita ambil dari teman yg pertama tadi ? bagaimana cara memilah psikiater yang dapat kita percaya dan tidak ?
YOU KNOW WHAT I MEAN ? SIMPULKAN SENDIRI..
KEMBALI KE LAPTOP. Inilah kesimpulan akhir dari bincang singkat untuk kasus diatas :
NB : Maaf jika membuat pembaca menyesal telah membuang-buang waktu untuk membaca tulisan tidak jelas ini.
Bismillah,
dalam postingan kali ini saya ingin berbagi pengalaman dari seorang sahabat. Namanya
Anna. Kami dipertemukan di kota seribu pura, tentu saja atas kehendak-Nya.
Sekedar
berbagi cerita, khususnya bagi wanita yang ingin berubah, namun masih belum
mantap akan hijrahnya karena satu dan lain hal. Kutipan pengalaman ini mungkin terlihat
biasa, namun dapat dijadikan renungan menuju perubahan yang luar biasa. Insya
Allah
Tidak
sedikit yang selalu bertanya kepada Anna tentang perubahannya saat ini. Mengapa
sekarang ia memutuskan untuk memakai pakaian panjang nan longgar dengan kerudung
lebar yang menutupi hampir separuh tubuhnya. Apakah tidak gerah ? Untuk apa
memilih gaya berpakaian seperti itu ? Sedangkan saat ini sangat banyak tutorial
trend hijab anak muda yang lebih
modis dan akan membuat semua mata terpukau.
Anna
selalu menasehati dengan tuturnya yang lembut, “berjilbab itu jangan
banyak-banyak peniti atau jarumnya, tutorial kiri-kanan. Cukup ulurkan jilbabmu
hingga dada dan berpakaian longgar, karena sebaik-baiknya tutorial hijab ada
pada Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 31. Maka sempurnalah
hijabmu, indah dalam kesederhanaan”
Ya,
perubahan tersebut tidak serta merta datang begitu saja tanpa perantara. Dan
untuk memantapkan hati dalam berhijrah pun banyak problema nya.
Anna
adalah seorang gadis yang jelita, sosoknya yang sekarang tidak terlepas dari
cerita masa lalunya yang “kelam” layaknya “kisah indah” ABG masa kini. Kisah
indah tersebut biasanya kami sebut PACARAN.
Anna
mulai menjalin hubungan “pacaran” sejak kelas IX, sedangkan dulu ia berkomitmen
tidak mau pacaran layaknya teman-teman seumurannya. Karena apabila ia
berpacaran lalu putus, maka ia punya mantan. Apabila punya banyak mantan,
berarti punya banyak bekas. BEKAS DIAPA-APAIN (seperti pegangan tangan dll). Hingga
suatu hari, runtuhlah pertahanannya karena ada seorang pria yang kebetulan pria
tersebut adalah salah satu idola anak-anak gadis di sekolahnya menawarkan diri
untuk menjalin hubungan yang disebut pacaran tadi. Masih sangat melekat dibenak
Anna, bagaimana sosok pria tadi mengutarakan maksudnya yang langsung to the point. “Mau menjadi pendamping
abang ?” Wow, “ternyata selama ini aku diperhatikan olehnya. Sedikitpun aku
tidak berani menyimpan rasa padanya karena terlalu banyak saingan.” bantin
Anna.
Akhirnya
mereka pacaran, dengan gaya berpacaran yang masih wajar. Seperti; pulang bareng
menggunakan angkot yang sama, jalan kaki mencari angkot bersama saat gerimis,
kebayang kan gimana romance nya untuk
anak usia 15 tahun ? Tetapi, jangankan berpegangan tangan, menyimpan secuil
perasaan cinta pun tidak. Mungkin lebih tepatnya ini disebut PACARAN HANYA
STATUS.
Singkat
cerita, mereka putus dan Anna pun sakit hati. Mungkin rasa sakit hati itu
muncul karena benih cinta mulai tumbuh. Kemudian datanglah sosok yang mampu
menepis gundah pada diri Anna dan menawarkan hal yang sama, kebahagiaan semu
lewat pacaran.
Lewat
dirinyalah Anna belajar banyak hal. Mengubah kepolosan menjadi kebringasan. Ini
yang disebut bahagia lewat pacaran. Mereka menjalin hubungan kurang lebih 11
bulan, waktu yang cukup lama untuk bisa ikhlas melepaskan saat segalanya sudah tidak mampu dipertahankan.
Dua
tahun setelah berpisah, Anna memutuskan kembali membuka hati untuk pria lain.
Saat itu tepatnya kelas 3 SMA, seseorang kembali mampir mengisi hati Anna.
Bahkan mereka mengikat janji akan mempertahankan hubungan ini sampai menikah.
Usia yang terlalu dini untuk memahami apa arti pernikahan.
Sampai
pada suatu saat, Anna merasa ada yang salah dengan hubungan ini. Gaya berpacaran
mulai tak terkendali, dan ada sosok yang selalu Anna bohongi saat hendak
menemui kekasih hati. Ya, berbohong kepada kedua orang tua. Ditengah padatnya
tugas kelompok saat SMA, Anna manfaatkan alasan tersebut untuk menemui pujaan
hati. Uang saku yang diberikan habis demi membahagiakan sosok yang dicintai.
Seiring
berjalannya waktu, ujian akhir nasional pun tiba. Anna kehabisan alasan untuk
minta izin keluar karena sudah tidak ada lagi tugas kelompok yang sekolah
berikan menjelang UN. Semakin hari kekasih tercinta makin mendesak ingin
bertemu akibat rindu menggebu. Ada rasa berontak dalam batin Anna, antara tidak
ingin membuat pasangannya kecewa dan tidak ingin membuat Tuhan kecewa.
“Aku
tidak boleh begini terus, sebaiknya aku tinggalkan saja dia. Bersamanya aku tak
pernah merasakan kebahagiaan seperti dengan kekasihku yang dahulu. Yang ada
hanya hati yang tersakiti. Lagipula apa untungnya hubungan ini ?” gumamnya.
Anna
mulai sadar, sudah banyak dosa yang ia tumpuk karena hubungan terlarang ini.
Anna takut Allah tidak ridho. Apalagi ujian akhir nasional dan tes perguruan
tinggi sudah di depan mata, Anna sadar bahwa ia bukan siswi yang cerdas. Dan
jalan satu-satunya selain berusaha adalah dengan berdo’a & lebih
mendekatkan diri kepada Illahi. Akhirnya Anna memantapkan hati untuk
meninggalkan kekasihnya. Ia mulai membenah diri mulai dari cara berpakaian yang
seharusnya dan mulai rajin mengerjakan amalan-amalan sunnah.
Saat
Anna memutuskan untuk melebarkan jilbabnya, ada rasa was-was dalam diri Anna. Takut
jika ibunda melarang, karena keluarga besarnya pernah menentang salah satu
kerabat yang memutuskan untuk berniqab. Anna takut keluarganya menganggap
perubahan dirinya karena ikut organisasi fanatik. Sedangkan saat itu ia sama
sekali tidak pernah bergelut dengan pengajian dan organisasi seperti itu.
Apalagi kota tempat Anna menetap memang sudah masuk zona merah sarang teroris,
hal itu semakin menyurutkan niat Anna untuk berbenah. Akan tetapi, keinginan
Anna tidak pupus. “Jika aku tetap bertahan memakai kerudung tipis ini, sampai
kapan aku harus menabung dosa? Karena percuma jika aku berkerudung tetapi
rambutku masih kelihatan karena kain kerudung yang transparan. Percuma jika aku
memakai jeans panjang tetapi lekuk
tubuhku masih terbentuk. Sudah terlalu banyak dosa-dosa yang aku pupuk, walau
kelakuan dan tutur kata ini masih sangat jauh dari kata baik, setidaknya dengan menutup
aurat sesuai syari’at akan meminimalisir dosa-dosaku yang sudah menggunung dan
Insya Allah kelak kebaikan lain akan mengikuti.” Batin Anna.
Walaupun
kadang orang-orang terdekat Anna termasuk sang ibu sering berkomentar atas
kerudung lebarnya, namun Anna tidak berkecil hati bahkan tidak membalas
komentar tersebut. Kegigihan sikap Anna menjadi teladan dalam keluarganya,
sehingga sekarang sang ibu dan adik-adiknya mulai tertarik memakai gamis dan
kerudung lebar.
Teringat
kisah Larissa Chou, walau awalnya keluarga sangat menentang dengan keputusannya
untuk pindah ke agama Islam. Namun ia tidak melawan, justru ia tetap
menunjukkan pribadi lembut sebagai seorang muslimah yang taat dengan syari’at Islam.
Sehingga ayah dan sang nenek pun tertarik akan kepribadiannya yang baru, lalu
ayah dan neneknya memutuskan untuk masuk Islam.
Begitulah
cara Rasulullah menyebarkan agama Allah. Dahulu Rasulullah berdakwah hanya
seorang diri, lambat laun banyak yang mengikuti ajaran Beliau. Bagaimana cara Rasulullah?
Dengan cara menjadi tauladan yang baik, sehingga orang-orang tertarik untuk
mengikuti. Dan sampai saat ini, hampir separuh penduduk Bumi memeluk agama
Islam.
Ya,
begitulah kisah hijrah sahabatku Anna. Benda-benda ini menjadi saksi bisu
perjalanan cintanya yang mengantarkan ia lebih dekat kepada Penciptanya.
Akhirnya,
Anna lulus dengan nilai UN tertinggi kedua di sekolahnya dan lulus perguruan
tinggi negeri di jurusan yang selama ini telah diistikharahkan. Aku pun bertemu
dengan Anna di sini, kota seribu pura. Aku memutuskan untuk berkuliah di sini
agar bisa bebas dari orang tua, bisa bersenang-senang ke bar atau diskotik. Namun
Allah berkehendak lain, justru di sinilah aku semakin dekat dengan-Nya. Dari sinilah
aku belajar banyak tentang Islam, lewat tarbiyah. Bersama Anna dan sahabatku
yang lain. Sywl
Tulisan ini ane kutip dari buku
yang sedang ane baca, berjudul Beauty Jannaty karangan Keisya Avicenna (nama
pena dari Norma Ambarwati, S.Si.)
Kutipan ini sangat berkesan untuk
ane pribadi, karena kebetulan ane masih dalam proses belajar mengenal DAKWAH, melalui Forum
Persatuan Mahasiswa Islam pada salah satu universitas negeri di Indonesia.
Tulisan ini ane kutip dari Bab 17,
Jelita karena Tidak Bercampur dengan Laki-Laki secara Bebas. halaman 75-79.
Seiring perkembangan zaman dan
teknologi, ikhtilat ataupun khalwat tidak hanya terjadi bila dua fisik bertemu
di satu lokasi. Tetapi dapat melalui SMS, menelepon secara berlebihan, dan
chat-chat yang tiada guna dan tujuan kepada lawan jenis bukan mahram yang bisa
membuat hati gelisah.
Wahai muslimah jelita, mengapa
ikhtilat bisa terjadi di kalangan aktivis dakwah ? Simak baik-baik fenomena di
bawah ini, ya !
“Dia ikhwan ya ? Tapi kok kalau
bicara dengan akhwat, dekat sekali ?” Tanya seorang akhwat kepada temannya
karena ia sering melihat seorang aktivis rohis ketika berbicara dengan lawan
jenis sangat dekat posisi tubuhnya.
“Mbak, akhwat yang itu sudah
menikah ? Kok akrab sekali sama ikhwan itu ?” Tanya sang mad’u kepada
murabbinya karena sering melihat dua aktivis rohis itu kemana-mana selalu
bersama sehingga terlihat seperti pasangan yang sudah menikah. Demikian kejadian yang sering
dipertanyakan.
Pelanggaran batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat masih saja
terjadi dan hal itu disebabkan oleh :
1.Belum
mengetahui batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat;
2.Sudah
mengetahui, tetapi belum memahami;
3.Sudah
mengetahui, tetapi tidak mau mengamalkan;
4.Sudah
mengetahui dan memahami, tetapi tergelincir karena lalai.
Menjaga pergaulan dengan lawan
jenis memang bukanlah hal yang mudah karena fitrah laki-laki adalah mencintai
wanita, demikian pula sebaliknya. Hanya dengan keimanan yang kukuh dan
mujahadah sajalah yang dapat membuat seseorang dapat istiqamah menjaga
batas-batas ini.
Berikut ini adalah pelanggaran
batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat yang masih sering terjadi.
1. Pulang
Berdua
Usai rapat acara rohis karena
pulang ke arah yang sama, akhirnya akhwat pulang bersama di mobil ikhwan.
Berdua saja.
Rasulullah saw. bersabda, “Barang
siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, jangan sekali-kali dia bersendirian
dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya karena yang ketiganya
adalah setan” (HR Ahmad)
2.Rapat
Berhadap-hadapan
Rapat dengan posisi
berhadap-hadapan sangatlah cair, dan rentan akan timbul ikhtilat. Alangkah
baiknya jika belum mampu menggunakan hijab, dibuat jarak yang cukupantara ikhwan dengan akhwat.
Allah SWT berfirman, “Katakanlah
kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara
kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka….” (QS an-Nur : 30)
3.Tidak
Menundukkan Pandangan (Gadhul Bashar)
Bukankah ada pepatah yang
mengatakan, “dari mana datangnya cinta ? dari mata turun ke hati.” Jadi, jangan
kita ikuti seruan yang mengatakan, “Ah, tidak perlu Gadhul Bashar, yang
pentingkan jaga hati !” Namun, tentu aplikasinya tedak harus dengan cara
menunduk ke tanah sampai-sampai menabrak dinding. Mungkin dapat disiasati
dengan melihat ujung-ujung jilbab atau mata semu/samping.
Rasulullah saw. bersabda,
“Pandangan mata adalah salah satu dari panah-panah iblis, barang siapa yang
menundukkannya karena Allah, maka akan dirasakan manisnya iman dalam hatinya”
(HR Ahmad)
4.Duduk/Jalan
Berduaan
Duduk berdua di taman kampus untuk
berdiskusi Islam (mungkin). Namun apapun alasannya, bukankah masyarakat kampus
tidak ambil pusing dengan apa yang sedang didiskusikan. Sebab, yang terlihat di
mata mereka adalah aktivis berduaan, titik. Oleh karena itu, menutup pintu
fitnah ini adalah langkah terbaik kita.
5.Pesan
Untuk Menikah
“Bagaimana ukh ? Tapi nikahnya tiga
tahun lagi. Habis, ana takut antum diambil orang.” Sang ikhwan belum lulus
kuliah sehingga ‘memesan’ seorang akhwat untuk menikah karena takut kehilangan,
padahal tak jelas juga kapan akan menikahnya. Hal ini sangatlah riskan.
6.Telepon
dan SMS Tidak Penting
Menelepon dan SMS tak tentu arah,
yang tak ada nilai urgensinya.
7.Berbicara
Mendayu-dayu
“Duhh si akhiii, antum bisa aja
deh…” Ucap sang akhwat kepada seorang ikhwan sambil tertawa kecil dan terdengar
sedikit manja.
Allah SWT berfirman, “… Maka janganlah kamu tunduk
(melemahlembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada
penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik….” (QS al-Ahzab : 32)
8.Bahasa
yang Akrab
Lewat apapun, baik HP, e-mail, fax,
media sosial, maupun telepon. Meskipun sudah sering beraktivitas bersama,
ikhwan-akhwat bukanlah sepasang suami istri yang bisa mengakrabkan diri dengan
bebasnya. Meskipun hanya bahasa tulisan, tetap dapat membekas di hati si
penerima ataupun si pengirim sendiri.
9.Curhat
“Duh bagaimana ya ? Ane bingung
nih, banyak masalah begini.” Curhat berduaan akan menimbukan kedekatan, lalu
ikatan hati, kemudian dapat menimbulkan permainan hati sehingga bisa menggangu
proses dakwah. Apalagi jika yang dicurhatkan tidak ada sangkut pautnya dengan
dakwah.
10.Bercanda
Ikhwan-Akhwat
Bercanda yang biasa, bahkan mungkin
karena terlalu banyak setan di sekeliling, sang akhwat hampir saja mencubit
lengan sang ikhwan.
Lebaran kali ini benar-benar berbeda, sangat berbeda.
Jauh dari orang tua, jauh dari adik-adik tersayang, dan teman-teman
Catalyst tercinta.
Bu, harusnya sekarang aku sedang membantu ibu membuat kue lebaran. Harusnya sekarang aku sedang membersihkan rumah agar terlihat nyaman saat tamu-tamu berkunjung.
Bu, aku rindu suara adzan di kota kelahiranku.
Aku rindu gema takbir di surau depan rumah.
Bu, satu hari lagi lebaran Idul Adha.
Aku sangat iri dengan teman-teman yang dapat merayakan hari raya bersama keluarga dan teman-teman mereka.
Entah dengan siapa aku melaksanakan shalat Ied nanti.
Biasanya saat aku menoleh ke samping, selalu ada ibu dan Ais yang duduk di sebelah kananku.
Dan saat aku menoleh ke kiri, ada Us dan Mila.
Aku rindu saat jalan ber-enam menuju Lapangan Merdeka untuk melaksanakan shalat ied.
Aku rindu saat ayah menunggu di ujung lapangan dengan baju koko putih dan peci di kepalanya.
Ayah terlihat sangat gagah.
Bu, rasanya aku ingin pulang !
Bu, ini foto-foto saat lebaran Idul Adha tahun lalu. Semoga tahun depan kita bisa berkumpul lagi seperti ini. Aku selalu berdo’a agar ayah dan ibu selalu sehat dan senantiasa diberi umur panjang.
Ohya Bu, beberapa hari lagi ibu berulang tahun.
Maaf karena aku tidak bisa berada di samping ibu saat hari pergantian umur mu, Bu.
Maaf karena tidak bisa memberi ibu kejutan seperti di tahun-tahun sebelumnya.
Aku harap, ibu selalu terlihat muda di umur ke- 44 tahun ini.
Kelak, aku ingin menjadi seperti ibu.
Menjadi wanita yang kuat dan selalu sabar, jago masak, dan menjadi sosok ibu yang hebat untuk anak-anaknya.
Bu, salam sujudku untuk ayah. Tolong sampaikan padanya, terimakasih telah menjadi sosok inspirasi bagi ku.