November ini, aku melepasmu

Kau tau apa yang membuat rintik hujan terasa syahdu? Sebab diantaranya terselip pesan-pesan rindu.

Saat pertama kali mataku menangkap keindahanmu, aku terus dilanda kecemasan tak berkesudahan.

Aku takut kau hilang.

Meskipun berusaha aku tahan, hati dan pikiranku tetap bersikukuh padamu yang semakin jauh.

Jika saja aku tahu, tumbuhnya rasa hanya membuat rasa sesak di dada, aku lebih memilih tidak pernah merasa sama sekali.

Aku sadar, menjadikanmu poros bahagiaku adalah kesalahan. Tak seharusnya aku porak-poranda karena perasaan.

Maka izinkan aku melepas apa yang seharusnya aku lepaskan. Biarlah ia tetap dinamakan cinta dalam diam, biarlah ia menjadi cinta yang tak merusak keimanan.

Sampai pada waktunya nanti.

Dari seseorang yang tak pernah mampu memangkas rindu dengan utuh.

Dan do'a adalah wakilnya

4 September 2019

Akan ada masa
dimana kamu akan menertawakan
derita, kesedihan, benci, amarah, dan dendam dimasa lalu pada sesuatu dan seseorang.
Akan ada masa
dimana kamu tidak percaya bahwa rupanya kamu bisa melakukan apa yang kamu lakukan sekarang.
Meraih apa yang tidak pernah kamu harapkan atau bayangkan.
Mencoba hal dan bertemu dengan orang baru yang dulu kamu takutkan.
Akan ada masa
dimana kamu mulai membangun lagi mimpi-mimpi lama
bahkan membuat yang baru yang jauh lebih besar dan tinggi.

Tapi untuk sekarang menangislah
Berdukalah
Marahlah
Hancurlah
Salahkan kekasihmu atau mantan kekasihmu
Salahkan gebetan barunya atau pacar barunya
Salahkan pekerjaanmu
Salahkan orangtua mu
Salahkan teman-temanmu
Salahkan harapan-harapan kosong yang dijual dalam bentuk buku, film, televisi, dan internet
Salahkan lingkunganmu, negaramu, bahkan presidenmu.
Salahkan agamamu bahkan Tuhanmu.
Salahkan dirimu sendiri
Salahkan semuanya, sampai tidak ada yang bisa disalahkan
Salahkan semuanya
Sampai kamu sadar bahwa kamu tidak punya kendali terhadap apapun selain dirimu sendiri

Menggapai Angin

Angin kembali merayuku untuk bersajak. Memaksa sosokmu menjadi pelakon utama, dan menjadikan kisah ini sebagai alurnya.
Saat panggilan-Nya berkumandang
Aku dan kamu bergegas menuju-Nya
Tetesan wudhu menjadi saksi bagaimana kau menjagaku
Dirimu, melindungiku dari pandangan seseorang yang tak seharusnya
Bahkan kau pun tak sudi untuk menatap
Karena aku belum menjadi hak mu
Dari saff belakang ku pandangi sosokmu
Dengan gagah berdiri diantara barisan itu
Kamu, sedang bermunajat kepada Tuhanmu
Aku mengagumimu


Bersamamu habiskan malam
Mengarungi samudera
Semilir angin dan gemuruh ombak menjadi saksi kita bersua
Guyonan polosmu membuat jiwa ini tergelitik
Ombak dan angin malam menjadi saksi pengakuanmu
Dirimu rindu akan kenangan masa lalu
Kenangan dari semilir angin Tanjung Benoa
Membawa ingatan tentang dia
Dia yang menjadi cinta pertamamu
Dia, sosok dewasa yang kau butuhkan
Tempat kau bermanja ria
Tetapi sosok itu pudar raganya
Yang tersisa hanya alur kenangan
Yang kau anggap indah dan sulit untuk terganti
Aku dan kamu kembali mengitari perahu
Mengiring tuk bersandar di dermaga itu
Aku dan kamu tiba dipenghujung
Kelap-kelip lampu kota dari kejauhan
Sinar rembulan, sepoi angin
Kau dan aku bersama
Aku ingin selalu terjaga
Diantara hijaunya ruang
Namun raga ini mulai terlelap


00:00, menemukanmu di sampingku
Diri ini tak mampu berpaling dari lelapmu
01:00, Kau terbangun
Kau dan aku mulai berpetualang kembali
Menyusuri tiap ruang yang sepi
Sedikit bercengkerama namun kaku
Semua terasa berbeda
Kau dan aku saling diam
Lalu kau pun pergi
Berharap kau datang kembali, menghampiri
Angin mulai menusuk dinginnya malam
Sepi, berharap kau kembali
Ku susuri ruang tanpa cahaya
Berharap menemukan sosokmu
Langkah demi langkah
Lalu terhenti
Kutemukan pelita dirimu
Merebah pada kursi panjang nan usang
Mungkin pelitamu redup bersama angin
Kembali ku kagumi sosokmu dalam lelap
05:00, panggilan-Nya berkumandang kembali
Kau masih terlelap
Bangunku tak kau hiraukan
Kau meluluh disetengah waktu
Kau beranjak, bergegas menghadap-Nya
Kau dan aku menyambut sang mega
Mengawali hari berdua
Mengisi kekosongan bersama
Lumba-lumba itu menjadi saksi curahan hati
Kau mengajakanku teori pujangga
Aku tertarik
Perjalanan ini terhenti
Kau dan aku berbeda haluan
Aku tidak cantik, kau tak mungkin tertarik
Dan aku kembali mengapai angin


BERBOHONG AGAR TERLIHAT HEBAT DI MATA SESEORANG

Tidak apa jika kamu tidak mampu jujur & tidak ingin menceritakan tentang kekuranganmu pada orang lain. Tetapi jangan mengarang cerita lain agar terlihat hebat untuk menarik perhatian mereka (sywl, 2016)

Quotes di atas tercipta dari renungan sesaat dari kasus berikut :
Ada cowok deketin cewek dan berniat ingin menjalin hubungan serius sama cewek itu. Nah untuk menarik perhatian si cewek ini dia ceritakan semua kelebihannya, tentang keluarganya dll. Tapi satu hal yang dia karang, cowok ini pengangguran & berbohong kepada si cewek. Ia mengatakan kalau dia sekarang kuliah di universitas A misalnya. Padahal dia tidak kuliah. Tetapi si cewek tersebut percaya. Dan pada suatu hari, si cowok diterima bekerja di perusahaan A. Setelah itu baru si cowok jujur kepada si cewek tentang dirinya yang dahulu membohonginya.

Akhirnya aku memutuskan untuk berkonsultasi tentang kasus di atas kepada seorang teman yang kebetulan seorang mahasiswa psikologi.
"Cowok yg seperti itu kenapa ya jika dilihat dari sudut pandang psikologi manusia?"
Teman tersebut pun menjawab "Dia tidak percaya diri, karna mungkin dia seperti itu karena melihat dari sisi status sosial perempuannya.
Dia tidak ingin wanita tersebut kecewa dan dia membuktikan dengan berusaha untuk bekerja agar keduanya setara status sosialnya."
Pertanyaan selanjutnya "Apakah orang seperti itu cenderung akan selalu berbohong untuk menutupi kekurangannya kepada orang lain juga? Misal kepada teman/saudaranya?"
"Bisa, karena indikasi awalnya dia begitu "Jawab kawan tersebut.
Dan sedikit nasehat tambahan darinya "tetapi segala hal yg didasari kebohongan belum tentu selalu buruk"
Sejenak aku berpikir, asik ya jadi mahasiswa psikolog. Bisa menganalisa kepribadian seseorang, tentu saja berdasarkan riset & aplikasi di masyarakat.
2 tahun lalu, saat teman2 bertanya kelak aku ingin melanjutkan study  di jurusan apa, dengan bangga aku katakan "aku ingin menjadi seorang psikolog"
Rasa tertarik itu masih tertanam hingga sekarang. Dan aku pun melanjutkan diskusi ringan dengan seorang teman tadi.
Aku bertanya tentang buku pegangan wajib seorang mahasiswa psikolog, dia pun menjawab "kami tidak memiliki buku pegangan wajib. Semua harus di luar kepala"

Ada rasa kagum terhadap teman tersebut. Dan kembali aku lontarkan pertanyaan "lalu untuk bisa menganalisa kepribadian seseorang bagaimana caranya ? Apakah dgn banyak mempelajari lewat buku atau langsung ke masyarakat?"
Inilah jawaban yang ku dapat..

Seperti ada yang rancu ketika mendengar penuturan tersebut, dan aku semakin tertarik dengan kode etika seorang psikolog.
Tak puas dengan jawaban teman tadi, aku beralih  ke dua teman lainnya. Pertanyaan awal aku mulai tentang kode etik seorang psikolog. Dan keduanya pun menjawab dengan hal yang sama.
   

Jadi, pelajaran apa yang dapat kita ambil dari teman yg pertama tadi ? bagaimana cara memilah psikiater yang dapat kita percaya dan tidak ?
YOU KNOW WHAT I MEAN ? SIMPULKAN SENDIRI..
KEMBALI KE LAPTOP. Inilah kesimpulan akhir dari bincang singkat untuk kasus diatas :
NB : Maaf jika membuat pembaca menyesal telah membuang-buang waktu untuk membaca tulisan tidak jelas ini.

WONDERFUL HIJRA

Assalamu’alaikum wr wb..
Bismillah, dalam postingan kali ini saya ingin berbagi pengalaman dari seorang sahabat. Namanya Anna. Kami dipertemukan di kota seribu pura, tentu saja atas kehendak-Nya.
Sekedar berbagi cerita, khususnya bagi wanita yang ingin berubah, namun masih belum mantap akan hijrahnya karena satu dan lain hal. Kutipan pengalaman ini mungkin terlihat biasa, namun dapat dijadikan renungan menuju perubahan yang luar biasa. Insya Allah
Tidak sedikit yang selalu bertanya kepada Anna tentang perubahannya saat ini. Mengapa sekarang ia memutuskan untuk memakai pakaian panjang nan longgar dengan kerudung lebar yang menutupi hampir separuh tubuhnya. Apakah tidak gerah ? Untuk apa memilih gaya berpakaian seperti itu ? Sedangkan saat ini sangat banyak tutorial trend hijab anak muda yang lebih modis dan akan membuat semua mata terpukau.
Anna selalu menasehati dengan tuturnya yang lembut, “berjilbab itu jangan banyak-banyak peniti atau jarumnya, tutorial kiri-kanan. Cukup ulurkan jilbabmu hingga dada dan berpakaian longgar, karena sebaik-baiknya tutorial hijab ada pada Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 31. Maka sempurnalah hijabmu, indah dalam kesederhanaan”
Ya, perubahan tersebut tidak serta merta datang begitu saja tanpa perantara. Dan untuk memantapkan hati dalam berhijrah pun banyak problema nya.
Anna adalah seorang gadis yang jelita, sosoknya yang sekarang tidak terlepas dari cerita masa lalunya yang “kelam” layaknya “kisah indah” ABG masa kini. Kisah indah tersebut biasanya kami sebut PACARAN.
Anna mulai menjalin hubungan “pacaran” sejak kelas IX, sedangkan dulu ia berkomitmen tidak mau pacaran layaknya teman-teman seumurannya. Karena apabila ia berpacaran lalu putus, maka ia punya mantan. Apabila punya banyak mantan, berarti punya banyak bekas. BEKAS DIAPA-APAIN (seperti pegangan tangan dll). Hingga suatu hari, runtuhlah pertahanannya karena ada seorang pria yang kebetulan pria tersebut adalah salah satu idola anak-anak gadis di sekolahnya menawarkan diri untuk menjalin hubungan yang disebut pacaran tadi. Masih sangat melekat dibenak Anna, bagaimana sosok pria tadi mengutarakan maksudnya yang langsung to the point. “Mau menjadi pendamping abang ?” Wow, “ternyata selama ini aku diperhatikan olehnya. Sedikitpun aku tidak berani menyimpan rasa padanya karena terlalu banyak saingan.” bantin Anna.
Akhirnya mereka pacaran, dengan gaya berpacaran yang masih wajar. Seperti; pulang bareng menggunakan angkot yang sama, jalan kaki mencari angkot bersama saat gerimis, kebayang kan gimana romance nya untuk anak usia 15 tahun ? Tetapi, jangankan berpegangan tangan, menyimpan secuil perasaan cinta pun tidak. Mungkin lebih tepatnya ini disebut PACARAN HANYA STATUS.
Singkat cerita, mereka putus dan Anna pun sakit hati. Mungkin rasa sakit hati itu muncul karena benih cinta mulai tumbuh. Kemudian datanglah sosok yang mampu menepis gundah pada diri Anna dan menawarkan hal yang sama, kebahagiaan semu lewat pacaran.
Lewat dirinyalah Anna belajar banyak hal. Mengubah kepolosan menjadi kebringasan. Ini yang disebut bahagia lewat pacaran. Mereka menjalin hubungan kurang lebih 11 bulan, waktu yang cukup lama untuk bisa ikhlas melepaskan saat  segalanya sudah tidak mampu dipertahankan.
Dua tahun setelah berpisah, Anna memutuskan kembali membuka hati untuk pria lain. Saat itu tepatnya kelas 3 SMA, seseorang kembali mampir mengisi hati Anna. Bahkan mereka mengikat janji akan mempertahankan hubungan ini sampai menikah. Usia yang terlalu dini untuk memahami apa arti pernikahan.
Sampai pada suatu saat, Anna merasa ada yang salah dengan hubungan ini. Gaya berpacaran mulai tak terkendali, dan ada sosok yang selalu Anna bohongi saat hendak menemui kekasih hati. Ya, berbohong kepada kedua orang tua. Ditengah padatnya tugas kelompok saat SMA, Anna manfaatkan alasan tersebut untuk menemui pujaan hati. Uang saku yang diberikan habis demi membahagiakan sosok yang dicintai.
Seiring berjalannya waktu, ujian akhir nasional pun tiba. Anna kehabisan alasan untuk minta izin keluar karena sudah tidak ada lagi tugas kelompok yang sekolah berikan menjelang UN. Semakin hari kekasih tercinta makin mendesak ingin bertemu akibat rindu menggebu. Ada rasa berontak dalam batin Anna, antara tidak ingin membuat pasangannya kecewa dan tidak ingin membuat Tuhan kecewa.
“Aku tidak boleh begini terus, sebaiknya aku tinggalkan saja dia. Bersamanya aku tak pernah merasakan kebahagiaan seperti dengan kekasihku yang dahulu. Yang ada hanya hati yang tersakiti. Lagipula apa untungnya hubungan ini ?” gumamnya.
Anna mulai sadar, sudah banyak dosa yang ia tumpuk karena hubungan terlarang ini. Anna takut Allah tidak ridho. Apalagi ujian akhir nasional dan tes perguruan tinggi sudah di depan mata, Anna sadar bahwa ia bukan siswi yang cerdas. Dan jalan satu-satunya selain berusaha adalah dengan berdo’a & lebih mendekatkan diri kepada Illahi. Akhirnya Anna memantapkan hati untuk meninggalkan kekasihnya. Ia mulai membenah diri mulai dari cara berpakaian yang seharusnya dan mulai rajin mengerjakan amalan-amalan sunnah.
Saat Anna memutuskan untuk melebarkan jilbabnya, ada rasa was-was dalam diri Anna. Takut jika ibunda melarang, karena keluarga besarnya pernah menentang salah satu kerabat yang memutuskan untuk berniqab. Anna takut keluarganya menganggap perubahan dirinya karena ikut organisasi fanatik. Sedangkan saat itu ia sama sekali tidak pernah bergelut dengan pengajian dan organisasi seperti itu. Apalagi kota tempat Anna menetap memang sudah masuk zona merah sarang teroris, hal itu semakin menyurutkan niat Anna untuk berbenah. Akan tetapi, keinginan Anna tidak pupus. “Jika aku tetap bertahan memakai kerudung tipis ini, sampai kapan aku harus menabung dosa? Karena percuma jika aku berkerudung tetapi rambutku masih kelihatan karena kain kerudung yang transparan. Percuma jika aku memakai jeans panjang tetapi lekuk tubuhku masih terbentuk. Sudah terlalu banyak dosa-dosa yang aku pupuk, walau kelakuan dan tutur kata ini  masih  sangat jauh dari kata baik, setidaknya dengan menutup aurat sesuai syari’at akan meminimalisir dosa-dosaku yang sudah menggunung dan Insya Allah kelak kebaikan lain akan mengikuti.” Batin Anna.
Walaupun kadang orang-orang terdekat Anna termasuk sang ibu sering berkomentar atas kerudung lebarnya, namun Anna tidak berkecil hati bahkan tidak membalas komentar tersebut. Kegigihan sikap Anna menjadi teladan dalam keluarganya, sehingga sekarang sang ibu dan adik-adiknya mulai tertarik memakai gamis dan kerudung lebar.
Teringat kisah Larissa Chou, walau awalnya keluarga sangat menentang dengan keputusannya untuk pindah ke agama Islam. Namun ia tidak melawan, justru ia tetap menunjukkan pribadi lembut sebagai seorang muslimah yang taat dengan syari’at Islam. Sehingga ayah dan sang nenek pun tertarik akan kepribadiannya yang baru, lalu ayah dan neneknya memutuskan untuk masuk Islam.
Begitulah cara Rasulullah menyebarkan agama Allah. Dahulu Rasulullah berdakwah hanya seorang diri, lambat laun banyak yang mengikuti ajaran Beliau. Bagaimana cara Rasulullah? Dengan cara menjadi tauladan yang baik, sehingga orang-orang tertarik untuk mengikuti. Dan sampai saat ini, hampir separuh penduduk Bumi memeluk agama Islam.
Ya, begitulah kisah hijrah sahabatku Anna. Benda-benda ini menjadi saksi bisu perjalanan cintanya yang mengantarkan ia lebih dekat kepada Penciptanya.


Akhirnya, Anna lulus dengan nilai UN tertinggi kedua di sekolahnya dan lulus perguruan tinggi negeri di jurusan yang selama ini telah diistikharahkan. Aku pun bertemu dengan Anna di sini, kota seribu pura. Aku memutuskan untuk berkuliah di sini agar bisa bebas dari orang tua, bisa bersenang-senang ke bar atau diskotik. Namun Allah berkehendak lain, justru di sinilah aku semakin dekat dengan-Nya. Dari sinilah aku belajar banyak tentang Islam, lewat tarbiyah. Bersama Anna dan sahabatku yang lain. Sywl

Ikhwan-Akhwat di Lembaga Dakwah Kampus


Bismillahirrahmanirrahim..
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tulisan ini ane kutip dari buku yang sedang ane baca, berjudul Beauty Jannaty karangan Keisya Avicenna (nama pena dari Norma Ambarwati, S.Si.)
Kutipan ini sangat berkesan untuk ane pribadi, karena kebetulan ane masih dalam proses belajar mengenal DAKWAH, melalui Forum Persatuan Mahasiswa Islam pada salah satu universitas negeri di Indonesia.
Tulisan ini ane kutip dari Bab 17, Jelita karena Tidak Bercampur dengan Laki-Laki secara Bebas. halaman 75-79.
 
          Seiring perkembangan zaman dan teknologi, ikhtilat ataupun khalwat tidak hanya terjadi bila dua fisik bertemu di satu lokasi. Tetapi dapat melalui SMS, menelepon secara berlebihan, dan chat-chat yang tiada guna dan tujuan kepada lawan jenis bukan mahram yang bisa membuat hati gelisah.
Wahai muslimah jelita, mengapa ikhtilat bisa terjadi di kalangan aktivis dakwah ? Simak baik-baik fenomena di bawah ini, ya !
“Dia ikhwan ya ? Tapi kok kalau bicara dengan akhwat, dekat sekali ?” Tanya seorang akhwat kepada temannya karena ia sering melihat seorang aktivis rohis ketika berbicara dengan lawan jenis sangat dekat posisi tubuhnya.
“Mbak, akhwat yang itu sudah menikah ? Kok akrab sekali sama ikhwan itu ?” Tanya sang mad’u kepada murabbinya karena sering melihat dua aktivis rohis itu kemana-mana selalu bersama sehingga terlihat seperti pasangan yang sudah menikah. Demikian kejadian yang sering dipertanyakan.

Pelanggaran batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat masih saja terjadi dan hal itu disebabkan oleh :
1.         Belum mengetahui batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat;
2.         Sudah mengetahui, tetapi belum memahami;
3.         Sudah mengetahui, tetapi tidak mau mengamalkan;
4.         Sudah mengetahui dan memahami, tetapi tergelincir karena lalai. 

          Menjaga pergaulan dengan lawan jenis memang bukanlah hal yang mudah karena fitrah laki-laki adalah mencintai wanita, demikian pula sebaliknya. Hanya dengan keimanan yang kukuh dan mujahadah sajalah yang dapat membuat seseorang dapat istiqamah menjaga batas-batas ini.
Berikut ini adalah pelanggaran batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat yang masih sering terjadi.
1. Pulang Berdua
Usai rapat acara rohis karena pulang ke arah yang sama, akhirnya akhwat pulang bersama di mobil ikhwan. Berdua saja.
Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya karena yang ketiganya adalah setan” (HR Ahmad)
2. Rapat Berhadap-hadapan
Rapat dengan posisi berhadap-hadapan sangatlah cair, dan rentan akan timbul ikhtilat. Alangkah baiknya jika belum mampu menggunakan hijab, dibuat jarak yang cukup  antara ikhwan dengan akhwat.
Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka….” (QS an-Nur : 30)
3. Tidak Menundukkan Pandangan (Gadhul Bashar)
Bukankah ada pepatah yang mengatakan, “dari mana datangnya cinta ? dari mata turun ke hati.” Jadi, jangan kita ikuti seruan yang mengatakan, “Ah, tidak perlu Gadhul Bashar, yang pentingkan jaga hati !” Namun, tentu aplikasinya tedak harus dengan cara menunduk ke tanah sampai-sampai menabrak dinding. Mungkin dapat disiasati dengan melihat ujung-ujung jilbab atau mata semu/samping.
Rasulullah saw. bersabda, “Pandangan mata adalah salah satu dari panah-panah iblis, barang siapa yang menundukkannya karena Allah, maka akan dirasakan manisnya iman dalam hatinya” (HR Ahmad)
4. Duduk/Jalan Berduaan
Duduk berdua di taman kampus untuk berdiskusi Islam (mungkin). Namun apapun alasannya, bukankah masyarakat kampus tidak ambil pusing dengan apa yang sedang didiskusikan. Sebab, yang terlihat di mata mereka adalah aktivis berduaan, titik. Oleh karena itu, menutup pintu fitnah ini adalah langkah terbaik kita. 
5. Pesan Untuk Menikah
“Bagaimana ukh ? Tapi nikahnya tiga tahun lagi. Habis, ana takut antum diambil orang.” Sang ikhwan belum lulus kuliah sehingga ‘memesan’ seorang akhwat untuk menikah karena takut kehilangan, padahal tak jelas juga kapan akan menikahnya. Hal ini sangatlah riskan. 
6. Telepon dan SMS Tidak Penting
Menelepon dan SMS tak tentu arah, yang tak ada nilai urgensinya.
7. Berbicara Mendayu-dayu
“Duhh si akhiii, antum bisa aja deh…” Ucap sang akhwat kepada seorang ikhwan sambil tertawa kecil dan terdengar sedikit manja.
Allah SWT berfirman, “… Maka janganlah kamu tunduk (melemahlembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik….” (QS al-Ahzab : 32) 
8. Bahasa yang Akrab
Lewat apapun, baik HP, e-mail, fax, media sosial, maupun telepon. Meskipun sudah sering beraktivitas bersama, ikhwan-akhwat bukanlah sepasang suami istri yang bisa mengakrabkan diri dengan bebasnya. Meskipun hanya bahasa tulisan, tetap dapat membekas di hati si penerima ataupun si pengirim sendiri.
9. Curhat
Duh bagaimana ya ? Ane bingung nih, banyak masalah begini.” Curhat berduaan akan menimbukan kedekatan, lalu ikatan hati, kemudian dapat menimbulkan permainan hati sehingga bisa menggangu proses dakwah. Apalagi jika yang dicurhatkan tidak ada sangkut pautnya dengan dakwah.
10. Bercanda Ikhwan-Akhwat
Bercanda yang biasa, bahkan mungkin karena terlalu banyak setan di sekeliling, sang akhwat hampir saja mencubit lengan sang ikhwan.

Surat Untuk Ibu

Lebaran kali ini benar-benar berbeda, sangat berbeda.
Jauh dari orang tua, jauh dari adik-adik tersayang, dan teman-teman 
Catalyst tercinta.
Bu, harusnya sekarang aku sedang membantu ibu membuat kue lebaran. Harusnya sekarang aku sedang membersihkan rumah agar terlihat nyaman saat tamu-tamu berkunjung.
Bu, aku rindu suara adzan di kota kelahiranku.
Aku rindu gema takbir di surau depan rumah.

Bu, satu hari lagi lebaran Idul Adha.
Aku sangat iri dengan teman-teman yang dapat merayakan hari raya bersama keluarga dan teman-teman mereka.
Entah dengan siapa aku melaksanakan shalat Ied nanti.
Biasanya saat aku menoleh ke samping, selalu ada ibu dan Ais yang duduk di sebelah kananku.
Dan saat aku menoleh ke kiri, ada Us dan Mila.
Aku rindu saat jalan ber-enam menuju Lapangan Merdeka untuk melaksanakan shalat ied.
Aku rindu saat ayah menunggu di ujung lapangan dengan baju koko putih dan peci di kepalanya.
Ayah terlihat sangat gagah.
Bu, rasanya aku ingin pulang !

Bu, ini foto-foto saat lebaran Idul Adha tahun lalu. Semoga tahun depan kita bisa berkumpul lagi seperti ini. Aku selalu berdo’a agar ayah dan ibu selalu sehat dan senantiasa diberi umur panjang.






Ohya Bu, beberapa hari lagi ibu berulang tahun.
Maaf karena aku tidak bisa berada di samping ibu saat hari pergantian umur mu, Bu.
Maaf karena tidak bisa memberi ibu kejutan seperti di tahun-tahun sebelumnya.
Aku harap, ibu selalu terlihat muda di umur ke- 44 tahun ini.
Kelak, aku ingin menjadi seperti ibu.
Menjadi wanita yang  kuat dan selalu sabar, jago masak, dan menjadi sosok ibu yang hebat untuk anak-anaknya.
Bu, salam sujudku untuk ayah. Tolong sampaikan padanya, terimakasih telah menjadi sosok inspirasi bagi ku.